Ribuan orang pernah berhasil mendaki gunung tertinggi di dunia, yakni Gunung Himalaya. Duabelas orang pernah berhasil mencapai bulan, sesuatu yang sangat luar biasa. Tiga orang pernah sampai di dasar lautan yang terdalam di dunia. Namun hanya ada satu orang yang mampu bertahta di hatiku, yaitu kamu”
Penjelasan:
Hikmah ini menekankan pentingnya kesadaran diri, ta‘aruf al-nafs تَعَرُّفُ النَّفْسِ (mengenali diri atau sadar diri) dalam urusan hati dan perasaan, khususnya dalam percintaan. Abah menggambarkan bagaimana seorang hamba mampu menahan diri dari tindakan yang tergesa-gesa, menjaga kehormatan hati, dan memahami batasan diri dalam menghadapi rasa rindu dan cinta.
Menahan diri dari kekecewaan dan usaha sendiri
“Aku rindu tapi aku tak mencarimu. Aku ingin bertemu, tapi aku tidak mendatangimu. Aku ingin bicara, tapi aku tak berani menghadapimu. Semua itu karena aku tidak ingin kecewa. Aku tidak ingin berjuang sendiri atas rasaku.”
Hikmah ini selaras dengan prinsip Islam yang menekankan kesabaran (sabr) dan pengendalian diri (muhasabat al-nafs).
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ وَالصَّبْرُ ضِمَادٌ لِكُلِّ جُرْحٍ
“Bertawakallah kepada Allah, dan sesungguhnya kesabaran adalah penawar bagi setiap luka.”
Kesadaran diri dan tahu diri di sini adalah bentuk pengendalian hawa nafsu dan rasa takut terhadap kecewa, sehingga cinta tetap berada dalam koridor kehormatan dan etika.
Mengagungkan cinta dengan perspektif spiritual
Abah menyinggung prestasi luar biasa manusia di dunia, seperti mendaki gunung, menapaki bulan, atau menyelam ke dasar lautan. Namun, hanya ada satu yang berhak “tahta di hati”, ini adalah simbol bahwa cinta yang benar bukan semata-mata urusan perasaan, tetapi keikhlasan dan fokus pada satu yang utama. Dalam pandangan sufi, hati adalah ladang untuk cinta yang suci, dan hanya itulah yang layak mengisi ruang batin yang terdalam.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165) (potongan ayat)
Ini menegaskan, bahwa cinta manusiawi yang sejati akan selaras dengan cinta kepada Allah, sehingga tidak melampaui batas atau menjerumuskan pada kekecewaan atau ketergantungan yang berlebihan.
Pesan Hikmah dari kesadaran dan tahu diri
Hikmah ini mengajarkan bahwa menjaga diri dalam percintaan adalah bagian dari pembelajaran spiritual. Menahan diri dari tindakan gegabah, tidak memaksakan kehendak, dan tetap sabar adalah bentuk ibadah hati yang menuntun kepada kedewasaan spiritual.
Ingatlah pesan Abah ini,
مَنِ احْتَرَمَ نَفْسَهُ وَحُرِمَ أَنْ يَتَعَسَّفَ فِي حُبِّهِ، بَلَغَ مَراتِبَ الْمَحَبَّةِ الصَّافِيَةِ
“Barangsiapa menghormati dirinya, dan menjauhi keterpaksaan dalam cintanya, maka ia telah mencapai tingkatan cinta yang murni.”
Pesan Hikmah
Hikmah ini menekankan pentingnya sadar diri dan tahu diri dalam percintaan: menjaga hati, bersabar, mengendalikan rasa, dan menempatkan cinta pada yang layak. Cinta yang diarahkan dengan kesadaran dan keikhlasan menjadi sumber kekuatan batin, bukannya penderitaan atau kekecewaan. Ia adalah simbol bagaimana manusia bisa menyeimbangkan perasaan dan akal dalam bingkai ajaran Islam dan nilai-nilai sufi.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar