Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-8
(Memahami Agama Dari Lingkaran Luar & Lingkaran Dalam)
“Memahami agama itu harus masuk dari lingkaran luar dan lingkaran dalam. Jika kita memahami dari lingkaran luarnya saja, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah sampai pada keintiannya.
Orang yang menjangkau hanya sampai di lingkaran luar, maka mereka akan menyebutku di bawah pengaruh nafsu. Dan mereka yang berdusta telah masuk ke lingkaran dalam, maka mereka akan kusebut pemangku kesesatan. Kedua lingkaran ini harus diselami secara bersamaan, dan tiada dusta dalam penempuhannya. Karena jika dusta yang terjadi, itu semua hanya akan menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran bagi dirinya, dan juga bagi diri orang lain”
Penjelasan:
Hikmah ini menekankan pentingnya menempuh dua lapisan pemahaman dalam agama: lingkaran luar (zahir) dan lingkaran dalam (batin). Pemahaman yang hanya menekankan aspek lahiriah akan membawa seseorang tersesat dari hakikat, sementara orang yang hanya menekuni batin tanpa landasan lahiriah juga bisa menjerumuskan.
Lingkaran Luar (Zahir)
“Jika kita memahami dari lingkaran luarnya saja, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah sampai pada keintiannya. Orang yang menjangkau hanya sampai di lingkaran luar, maka mereka akan menyebutku di bawah pengaruh nafsu.”
Lingkaran luar mencakup praktik ibadah, hukum, dan ritual. Tanpa memahami batiniah, ibadah hanya akan menjadi sebuah mekanisme, dan dipengaruhi oleh hawa nafsu.
Allah SWT menegaskan pentingnya memahami hukum dan mengamalkannya dengan niat yang benar.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan apa pun kebaikan yang kamu kirim untuk dirimu, niscaya kamu akan menemukannya di sisi Allah.”
(QS. Al-Muzammil: 20)
Lingkaran Dalam (Batin / Sirr)
“Dan mereka yang berdusta telah masuk ke lingkaran dalam, maka mereka akan kusebut pemangku kesesatan.”
Lingkaran dalam mencakup hati, rahasia batin, dan niat terdalam. Orang yang masuk lingkaran dalam tanpa pijakan ziarah lahiriah, atau yang menipu diri dan orang lain, justru dia akan tersesat. Para sufi menekankan kejujuran (sidq) sebagai syarat esensial dalam menempuh batin.
Seperti sabda Nabi Muhammad saw:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya kejujuran akan menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun kepada surga.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Menempuh Keduanya Secara Seimbang
“Kedua lingkaran ini harus diselami secara bersamaan, dan tiada dusta dalam penempuhannya. Karena jika dusta yang terjadi, itu semua hanya akan menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran bagi dirinya, dan juga bagi diri orang lain.”
Hikmah ini mengajarkan bahwa seorang penempuh suluk harus menyeimbangkan antara zahir dan batin, antara praktik lahiriah dan kesadaran batin. Kejujuran (sidq) adalah fondasi yang menuntun agar pengetahuan lahiriah dan batiniah harmonis, dan tidak menimbulkan kekeliruan maupun kerugian bagi diri sendiri dan orang lain.
Para ulama sufi, seperti Imam Al-Ghazali, menegaskan prinsip ini:
أَعْمَالُ الظَّاهِرِ لَا تَصْحُ إِلَّا بِالنُّورِ الْبَاطِنِ وَالنُّورُ الْبَاطِنُ لَا يُدْرَكُ إِلَّا بِالظَّاهِرِ الْصَّحِيحِ
“Amal lahiriah tidak akan sah kecuali dengan cahaya batin, dan cahaya batin tidak akan tercapai kecuali melalui lahiriah yang benar.”
Pesan Hikmah
Hikmah ini mengajarkan bahwa memahami agama adalah perjalanan yang mencakup dua lingkaran: lahiriah dan batiniah. Penempuh suluk harus menyeimbangkan keduanya dengan kejujuran dan kesadaran penuh. Dengan begitu, ibadah lahiriah menjadi bermakna, batin terarah, dan hati bersih dari ilusi serta kebingungan. Orang yang menguasai kedua dimensi ini mencapai keselarasan hakikat dan mengetahui jalan yang benar menuju Allah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar