Rabu, 11 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-5 (Berhenti Berharap Kepada Selain Allah)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-5

(Berhenti Berharap Kepada Selain Allah)


“Hidup ini akan terasa berat dan melelahkan bagi orang-orang yang mencari perhatian orang lain, atau banyak pengharapan dari selain Allah SWT.

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri kepada kita.

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.

يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ

Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah”

Penjelasan:

Hikmah ini menegaskan bahwa kunci ketenangan jiwa terletak pada berhenti menggantungkan harapan kepada makhluk, dan menautkan seluruh pengharapan hanya kepada Allah SWT. Hidup terasa berat bagi mereka yang mencari pengakuan, pujian, atau cinta dari manusia semata, karena setiap manusia memiliki pandangan, persepsi, dan penilaian yang berbeda.

Abah mengilustrasikan hal ini melalui rangkaian kalimat penuh makna:

Pandangan orang yang tidak mengenal kita

 “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.”

Ini menunjukkan bahwa pengakuan dari mereka yang tidak memahami kita adalah sia-sia. Upaya meraih penghargaan dari mereka tidak akan pernah memuaskan, karena mereka melihat kita hanya dari permukaan.

Pandangan orang yang memahami kita

“Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.”

Hanya mereka yang memahami esensi dan niat kita yang mampu menghargai kita. Namun, mereka juga terbatas jumlahnya, sehingga menempatkan harapan pada mereka tetap rapuh.


Pandangan orang yang mencintai kita

“Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.”

Cinta manusia memang memberikan kebahagiaan, tetapi cinta itu bersifat sementara dan bisa berubah, karena manusia memiliki keterbatasan.

Pandangan orang yang dengki dan iri

“Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita. Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri kepada kita.”

Hikmah ini menegaskan bahwa pandangan negatif orang lain adalah hal yang wajar. Mencoba memuaskan semua orang adalah usaha yang sia-sia dan melelahkan.

Ridha Allah sebagai tujuan utama

وَمَنْ يَرْضَ بِاللَّهِ فَقَدْ أَفْلَحَ

“Barang siapa yang ridha dengan Allah, maka sungguh ia telah beruntung.”


إِقْصِرُوا نَفْسَكُمْ عَنِ الرِّضَا بِغَيْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ سَيُعْذِبُ مَنْ يُحِبُّ مَسَرَّةَ النَّاسِ

“Jauhkan dirimu dari mengharap ridha selain Allah, karena Allah akan menyiksa orang yang terlalu mengutamakan kesenangan manusia.”

(dikutip dari kaidah ulama sufi)

Pesan Hikmah

Hikmah ini mengajarkan bahwa ketenangan sejati lahir dari menautkan seluruh harapan kepada Allah SWT semata. Pandangan dan penilaian manusia bersifat relative, hanya ridha Allah yang pasti membawa kebahagiaan dan kesuksesan hakiki. Dengan meninggalkan pencarian pengakuan duniawi dan menempuh jalan ridha Allah, hati akan merasakan ketenteraman dan keselarasan batin yang tidak tergoyahkan oleh dinamika kehidupan manusia.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)

  Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini) “Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketig...