Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-4
(Tasbihnya Orang yang Makrifatullah)
“Orang yang bertasbih sebenarnya bertasbih dengan rahasia kedalaman hakikat kesucian pikirannya, dalam wilayah keajaiban alam malakut dan kelembutan alam jabarut. Sementara seorang saliq, mereka bertasbih dengan dzikirnya dalam lautan kalbu. Sang murid bertasbih dengan kalbunya dalam lautan pikiran. Sang pencinta bertasbih dengan ruhnya dalam lautan kerinduan. Sang arif bertasbih dengan sirnya dalam lautan gaib. Dan orang siddiq bertasbih dengan kedalaman sirnya dalam rahasia cahaya yang suci, yang beredar di antara berbagai makna, asma-asma dan sifat-sifat-Nya, disertai dengan keteguhan di dalam silih bergantinya waktu. Dan dia yang hamba Allah bertasbih dalam lautan pemurnian, dengan kerahasiaan sir al-asrar dengan memandangnya, dalam ke-Baqaan-Nya”
Penjelasan:
Hikmah ini menyingkap rahasia terdalam dari tasbih, yaitu dzikir yang bukan sekadar ucapan lidah, melainkan manifestasi dari perjalanan jiwa menuju pengenalan hakikat Allah (makrifatullah). Abah menegaskan bahwa setiap tingkat tasbih mencerminkan tingkatan spiritual yang berbeda, dari lahiriah hingga kesadaran batin yang paling halus.
Tasbih dalam Kesucian Pikiran
“Orang yang bertasbih sebenarnya bertasbih dengan rahasia kedalaman hakikat kesucian pikirannya”
Dzikir pada tingkat ini lahir dari pemurnian fikiran dan niat. Rasulullah saw ngadawuh,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tasbih pada tahap ini muncul dari kesadaran intelektual yang bersih, mengenal Allah melalui ciptaan-Nya, merasakan keteraturan alam malakut (alam spiritual) dan kelembutan alam jabarut (alam spiritual). Pikiran yang murni adalah wadah pertama bagi orang arif untuk mengenal rahasia-Nya.
Tasbih Sang Salik dan Murid
“Seorang saliq, mereka bertasbih dengan dzikirnya dalam lautan qalbu. Sang murid bertasbih dengan kalbunya dalam lautan pikiran.”
Tahap ini menunjukkan perbedaan antara dzikir lahiriah dan dzikir batin. Salik (penempuh jalan sufi) menyalurkan dzikir melalui kalbu, yakni tasbih yang bersumber dari kesadaran hati. Sang murid, di sisi lain, menyalurkan dzikir melalui pikiran yang terdidik, di mana pemahaman dan renungan menyatu dalam tasbih.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Dan orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Tasbih Sang Pencinta dan Sang Arif
Sang pencinta bertasbih dengan ruhnya dalam lautan kerinduan. Sang arif bertasbih dengan sirnya dalam lautan gaib.”
Tahap ini menunjukkan perjalanan yang lebih dalam. Dzikir menjadi napas jiwa yang merindukan Allah. Sang pencinta terhanyut dalam kerinduan yang membara, sementara sang arif menembus rahasia gaib, tasbihnya tak tampak oleh mata manusia, namun menggetarkan seluruh makna dan energi spiritual yang mengitari dunia dan akhirat.
Tasbih Orang Siddiq dan Hamba Allah yang Tersucikan
Dan orang siddiq bertasbih dengan kedalaman sirnya dalam rahasia cahaya yang suci. Dan dia yang hamba Allah bertasbih dalam lautan pemurnian”
Di puncak tasbih, kedalaman sir (rahasia hati) bersatu dengan cahaya hakikat yang suci. Orang siddiq memadukan pemahaman, penghayatan, dan keteguhan dalam aliran waktu, menelusuri asma dan sifat Allah dengan ketelitian spiritual. Hamba Allah yang bertasbih dalam lautan pemurnian mengalami tasbih yang melampaui batas ruang dan waktu, memandang ke-Baqaan-Nya (keabadian Allah), sehingga dzikir menjadi penyucian mutlak dari segala noda dan keterikatan duniawi.
Pesan Hikmah
Hikmah ini mengajarkan bahwa tasbih bukan sekadar pengulangan lafaz, tetapi perjalanan kesadaran spiritual dari permukaan pikiran hingga inti batin. Setiap tingkat dzikir sesuai dengan derajat kemakrifatan seseorang. Dzikir sejati adalah cahaya yang memurnikan hati, menyatukan jiwa dengan rahasia Ilahi, dan menjadikan setiap nafas sebagai medium pengenalan diri kepada Sang Pencipta.
Dengan memahami mutiara hikmah ini, seorang saliq diajak menapaki jalan tasbih secara bertahap, dari kesucian pikiran, penyucian hati, penghayatan kerinduan, pengenalan gaib, hingga menyatu dalam lautan pemurnian dan ke-Baqaan Allah. Semua ini mencerminkan perjalanan makrifatullah yang paling agung.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar