Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-3
(Sirrullah)
“Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang diharamkan membukakan nya kepada yang bukan ahlinya. Aku memiliki dua cangkir yang berisikan ilmu pengetahuan, satu dari padanya akan aku tebarkan kepada kalian, akan tetapi yang lainnya, bila aku tebarkan, akan terputuslah sekalian ilmu pengetahuan, jika disebarkan kepada yang bukan maqamnya.
Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila kamu ajarkan kepada yang bukan ahlinya.
Mengupas “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip, tanpa dasar keilmuan syariat yang kuat, dan tarekat yang benar, akan menyebabkan gagal paham dan bahkan bisa sesat menyesatkan. Pelajarilah dahulu ilmu-ilmu syariat untuk mendasarinya, perbaikilah ibadah kalian, barulah kalian selami tentang hakikat dan makrifat melalui tarekat yang benar”
Penjelasan:
Abah mengajarkan bahwa ilmu itu bertingkat-tingkat, dan di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tidak boleh dibuka untuk semua orang. Inilah yang disebut Sirrullah, rahasia Ilahi yang hanya Allah titipkan kepada hamba-hamba pilihan. Para sufi menegaskan, tidak setiap ilmu layak dihamparkan kepada sembarang telinga, sebab sebagian telinga hanya akan mendengarnya sebagai cerita, sementara hati mereka tidak mampu menanggung isinya.
Dua Cangkir Ilmu
“Jika aku sampaikan seluruh ilmu yang aku ketahui, niscaya kalian akan menuduhku kafir.”
Maksudnya, ada ilmu yang bisa diajarkan secara lahir kepada umat, seperti fiqh, syariat, akhlak, dan adab. Namun ada pula ilmu yang hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang telah matang jiwanya, bening qalbunya, dan kuat syariatnya, yaitu ilmu hakikat dan makrifat.
إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُونِ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الْعُلَمَاءُ بِاللَّهِ، فَإِذَا نَطَقُوا بِهِ لَا يُنْكِرُهُ إِلَّا أَهْلُ الْغِرَّةِ بِاللَّهِ
“Sesungguhnya, sebagian ilmu itu bagaikan sesuatu yang tersembunyi, tidak mengetahuinya kecuali orang-orang yang benar-benar mengenal Allah. Jika mereka menuturkannya, tidak akan ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang lalai dari Allah.”
Inilah dasar dari ucapan Abah, tentang ilmu yang bila disebarkan kepada yang bukan maqamnya, justru menimbulkan kerusakan dan memutuskan jalur ilmu itu sendiri.
Bahaya Mengajarkan kepada yang Bukan Ahlinya
“Kerusakan ilmu ialah dengan lupa, dan hilangnya bila kamu ajarkan kepada yang bukan ahlinya.”
Artinya, ilmu harus disampaikan dengan hikmah. Jika sesuatu yang amat dalam dipaksakan kepada orang yang belum siap, bukanlah faidah yang lahir, melainkan penolakan, salah paham, bahkan fitnah.
Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip
Abah menekankan, “mengupas Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip, tanpa dasar syariat yang kuat dan tarekat yang benar, akan menyebabkan gagal paham dan bahkan sesat menyesatkan.”
Ini adalah peringatan agung. Sebab ada orang yang tergesa-gesa menyelam ke lautan hakikat tanpa perahu syariat. Padahal, syariat adalah pagar, tarekat adalah jalan, hakikat adalah buah, dan makrifat adalah cahaya.
Maka, sebelum seseorang mengaku menyelami rahasia rasa sejati kehidupan, ia harus terlebih dahulu menegakkan shalatnya, membersihkan akhlaknya, menjaga halal-haram, menunaikan kewajiban syariat, dan memperkuat jalur bimbingan kepada guru mursyid yang benar.
Jalan Selamat dalam Mencari Sirrullah
Rahasia Allah tidak bisa direbut dengan logika, tetapi hanya dianugerahkan kepada hati yang bersih.
Caranya adalah:
Syariat sebagai dasar – menjaga ibadah lahiriah dengan disiplin.
Tarekat sebagai jalan – berlatih dzikir, muraqabah, dan suluk di bawah bimbingan mursyid.
Hakikat sebagai cahaya – menyaksikan makna di balik amal, merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik.
Makrifat sebagai puncak – mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, melalui penyaksian hati, bukan sekadar pengetahuan akal.
Kesimpulan
Mutiara ke-3 ini adalah pagar keselamatan bagi para pencari. Ia menegaskan bahwa rahasia Allah bukan untuk dipertontonkan, melainkan untuk dijaga dan disampaikan hanya kepada yang sudah layak. Sebab ilmu tanpa pondasi syariat akan menyesatkan, dan rahasia tanpa kesiapan hanya akan menjadi fitnah.
Abah telah memberi petunjuk, “belajarlah dahulu syariat, sempurnakan ibadah, lalu berjalanlah dengan tarekat yang benar. Barulah kelak Allah bukakan hijab rahasia-Nya.”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar