Selasa, 31 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-25 (Berlomba-lomba di Dalam Kebaikan)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-25

(Berlomba-lomba di Dalam Kebaikan)


“Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba mengerjakan yang bukan kewajiban mereka, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakan kewajibanmu. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan urusan akhirat. Apabila manusia sibuk mengurusi aib cela orang lain, maka uruslah aibmu sendiri. Jika manusia saling memperindah dunianya, maka hiasilah akhiratmu. Dan jika engkau melihat manusia sibuk dengan memperbanyak amal, maka beramallah yang ikhlas. Dan ketika engkau melihat manusia menjadikan makhluk sebagai sesembahannya, maka jadikanlah Allah sebagai sesembahanmu”



Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 30 Maret 2026

Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Dzikir الذكر


Kata dzikir sebenarnya merupakan ungkapan dan pemendekkataan dari kalimat “dzikrullah” (mengingat Allah). Ia merupakan amalan khas yang mesti ada di dalam setiap tarekat.

Yang dimaksud dengan dzikir dalam suatu tarekat, adalah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahr dan sirri/khafi).

Dzikir Jahar (ذكر جهر) adalah "dzikir dengan suara keras" atau "dzikir yang diucapkan dengan lantang.”

Dzikir Khafi (ذكر خفي) atau Dzikir Sirri (ذكر سرِي) adalah "dzikir yang tersembunyi" atau "dzikir rahasia", yang merujuk pada dzikir yang dilakukan dalam hati tanpa suara.

Di dalam tarekat, dzikir diyakini sebagai cara yang paling efektif dan efesien untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoron dan penyakit-penyakitnya, sehingga hampir semua tarekat mempergunakan metode ini. Bahkan dalam istilah tasawuf, setiap yang disebut tarekat, maka yang dimaksudkan adalah tarekat dzikir.

Keutamaan dzikir didalam tarekat dibanding dzikir orang yang tidak bertarekat

Ketahuilah wahai salik yang mengharap ridha Allah, sesungguhnya dzikir adalah ruh dari seluruh amal ibadah, dan kunci pembuka segala pintu kedekatan kepada-Nya. Namun, dzikir yang diambil melalui talqin dari seorang guru tarekat, yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah saw, apakah melalui jalan taraqqi ataupun jalan tanazul, maka itu semua memiliki derajat dan kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding dzikir yang dilakukan tanpa bimbingan dan sanad ruhani. Sebab dzikir dalam tarekat mengandung tiga unsur agung: (1) Lafadz yang sahih, (2) Adab yang terjaga, (3) Sirr dan barakah yang diberikan dari qalbu guru ke qalbu murid.

Dalil Al-Qur’an

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًۭا

“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang ia pilih, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.”

(QS. An-Nisa’: 115)

Sabilul Mu’minin adalah jalan para pewaris Nabi saw, yaitu para ulama dan mursyid yang mengajarkan dzikir secara bersanad. Mengikuti mereka adalah bagian dari kesempurnaan dzikir.

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang, mengharap wajah-Nya.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini memerintahkan duduk bersama ahli dzikir. Ini adalah majelis dzikir yang dipimpin oleh guru tarekat, bukan dzikir sendirian yang rawan lalai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ.

Dari Abu Hurairah raḍiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan, mencari orang-orang yang berzikir kepada Allah. Maka apabila mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling menyeru: ‘Mari, temuilah apa yang kalian cari!’”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits talqin Sayyidina ‘Ali

غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Pejamkan matamu dan dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illa Allah.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa dzikir yang diajarkan langsung oleh Rasulullah saw mengandung transfer ruhani yang tidak bisa didapat hanya dengan membaca sendiri.

Penjelasan Ulama Tasawuf, Imam al-Qusyairi الإمام القشيري:

“Dzikir yang diambil dari ahlinya dengan sanad bersambung, itu lebih kuat dalam membersihkan hati, daripada dzikir yang hanya dihafalkan, karena yang pertama disertai adalah warisan sirr dari guru kepada murid.”

Imam al-Ghazali الإمام الغزالي:

“Dzikir bersama seorang Syekh mursyid bagaikan api yang diambil dari api yang menyala, sedangkan dzikir tanpa mursyid bagaikan menyalakan api tanpa sumber, bisa menyala, tetapi kecil dan cepat padam.”

Syekh Ahmad Zarruq الشيخ احمد زروق:

مَنْ لَمْ يَتَلَقَّ الذِّكْرَ مِنْ أَهْلِ النَّقْلِ وَأَهْلِ الْحَالِ، كَانَ ذِكْرُهُ أَقَلَّ بَرَكَةً وَأَثَرًا

“Siapa yang tidak menerima dzikir dari ahli sanad dan ahli hal (mursyid), maka dzikirnya lebih sedikit keberkahan dan pengaruhnya.”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-24 (Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-24

(Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)


“Sifat kesombongan yang ada pada seseorang hanya akan menambah kehinaan bagi penyandangnya. Andai yang ada di tanganmu itu adalah biji-bijian, kemudian ada orang yang mengatakan bahwa yang ada di tanganmu itu adalah permata, maka kata-kata itu sama sekali tidak akan bermanfaat bagimu. Sebab engkau pun mengetahui bahwa itu hanyalah biji-bijian. Dan andai yang ada di tanganmu itu adalah permata. Lalu manusia berkata bahwa itu hanyalah biji-bijian, maka kata-kata itu pun tidak akan berpengaruh untukmu. Sebab apa? Sebab engkau tahu bahwa itu adalah permata”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Minggu, 29 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-23 (Jangan Mudah Terkesima Melihat Seseorang)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-23

(Jangan Mudah Terkesima Melihat Seseorang)


“Janganlah mudah terkesima dengan seseorang yang engkau nilai hanya dari ucapannya ataupun tulisannya. Sehingga engkau menyimpulkan bahwa orang itu adalah manusia yang luar biasa.


Jangankan hanya baru sekedar rangkaian kata-kata indah bak mutiara, yang dirangkai melalui ucapan ataupun tulisan. Walaupun engkau telah melihat seseorang yang diberikan perkara luar biasa, sampai-sampai dia mampu terbang di atas udara, ataupun berjalan di atas air, maka janganlah tertipu dengannya, sebelum engkau dapat melihat kesungguhannya, dalam melaksanakan perintahan Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan juga dalam menjaga batasan-batasan hukum Allah”





Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Sabtu, 28 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-22 (Sejatinya Kita Tidak Pernah Kehilangan Apapun)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-22

(Sejatinya Kita Tidak Pernah Kehilangan Apapun)


“Pada umumnya, manusia akan merasakan sakit saat ia kehilangan apa yang ia cintai. Dan itu adalah sesuatu yang wajar, sangat manusiawi. Namun agar hati ini tidak jauh lebih terluka, maka ingatlah, sejatinya kita tidak pernah kehilangan apapun. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun.

Allah Subhanahu wa taala berfirman,

 "Miliknyalah apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah." Quran surah Thaha ayat 6.

Jika kita mengingat firman Allah tersebut, maka kita akan sadar, bahwa apa yang ada di dalam diri kita, dan apa yang selama ini kita akui milik kita, semuanya hanyalah titipan. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun, karena semuanya hanyalah milik Allah Subhanahu wa taala”




Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Jumat, 27 Maret 2026

Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Yang dimaksud dengan amalan khusus di sini adalah amalan yang benar-benar harus diamalkan oleh pengikut sebuah tarekat, dan tidak diamalkan oleh orang di luar tarekat, atau pengikut tarekat lain. Amalan khusus ini bisa jadi bersifat individual, maupun berjamaah.

Yang dimaksud dengan amalan individual adalah amalan yang harus dikerjakan oleh seorang murid (pengikut) tarekat, yang dimana amalan itu bisa saja hanya diberikan kesebagian diantara murid tarekat, yang sudah dianggap layak oleh guru mursyid untuk menerimanya.

Setiap murid pasti memiliki maqamat (tingkatan tahapan spiritual) yang berbeda-beda. Maka amalan khusus akan diberikan kepada murid yang sudah dianggap layak, karena telah lulus mengikuti tarbiyah-tarbiyah yang dilakukan olehnya.

Sedangkan amalan khusus secara umum, adalah amalan di tarekat tersebut, yang hanya bisa diamalkan oleh murid-murid pengikut tarekat tersebut, setelah mendapatkan talqin dzikir, dan mendapatkan ijazah untuk mengamalkannya, sehingga orang yang diluar tarekat tersebut tidak bisa mengamalkannya, kecuali atas izin dari guru mursyidnya.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-21 (Manusia yang Hanya Memikirkan Dunia)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-21

(Manusia yang Hanya Memikirkan Dunia)


“Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngadawuh, barangsiapa yang bangun dipagi hari, namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat haq Allah padanya, maka ingat, Allah akan menanamkan 4 penyakit pada dirinya.

Kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tiada ujungnya, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan keinginan yang tidak tercapai”











Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 71 - Hanya Satu Nama"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 71 - Hanya Satu Nama"


Judul Lagu: Hanya Satu Nama

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada 03 Februari 2026 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Sejak langkah menyentuh bumi

Namamu menetap di ruang sunyi

Bukan sebagai gema yang datang dan menghilang

Tapi sebagai rindu yang membuatku tenang

[Verse 2]

Waktu menguji dengan jarak dan luka

Musim berganti membawa ragu dan tanya

Namun yang tak berubah adalah arah

Cintaku tetap pulang pada satu nama

[Chorus]

Banyak wajah singgah di perjalanan

Namun tak satu pun menjadi tujuan

Hatiku bukan persinggahan semata

Ia rumah yang memilih satu cahaya

[Reff]

Ini cinta suci bukan sekedar rasa

cinta sejati bukan bara yang sementara

cinta mati yang tak mencari pengganti

Sejak masa silam hingga sampai sekarang

[Intro]

[Verse 3]

Bila kamu meragukanku

Biarlah waktu yang menjadi saksi

Aku mencintaimu bukan karena apa-apa

Tapi karna takdir hatiku memilih kamu

[Verse 4]

Ku tak menjanjikan langit tanpa mendung

Tidak pula hidup tanpa air mata

Namun yang ku janjikan hanya satu yang pasti

Aku tak pernah pergi dari cinta ini

[Chorus]

Waktu berlalu jadi lembaran doa

Namamu kutulis dalam suka dan duka

Bukan merayu bukan pula memaksa

Tapi inilah aku yang apa adanya

[Reff]

Jika engkau ragu pada kesungguhanku

Lihatlah lamanya ku mencoba bertahan

Cinta sejak dulu hingga sampai sekarang

Bukan keinginan tapi sebuah keyakinan

Ini cinta suci kujaga dalam sepi

cinta sejati tak runtuh oleh sunyi

Ini cinta mati tak mencari pengganti

Hatiku tetap milikmu tiada yang lain


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-71 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Hanya Satu Nama


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 70 - Seberkas Kisah"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 70 - Seberkas Kisah"


Judul Lagu: Seberkas Kisah

Cipta: Raden Syair Langit & Nida

Lagu ini dibuat pada 03 Februari 2026 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Seberkas kisah, cintaku padamu

penuh dengan luka dan derita

Andai engkau tau dalamnya cintaku

tak terukur dalamnya samudra

[Verse 2]

Sedikit saja hargai cintaku

rindu yang slalu menghantuiku

Apakah kau tega membiarkan aku

terlalu lama merindukanmu

[Chorus]

Apakah kau tau lamanya ku memendam cinta

tidak kah kau coba sadari itu

[Reff]

Mengapa kau sungguh tega

Membiarkan ku merana

Sakit luka dan derita menyakiti jiwa

Sungguh kejamnya dirimu

Apa kau tak punya rasa

Biarkan kumerana menelan pedih cinta

[Bridge]

Apakah kau akan slalu menyakitiku

Rindu hanya padamu

[Intro]

[Verse 3]

Sedikit saja hargai cintaku

rindu yang slalu menghantuiku

Apakah kau tega membiarkan aku

terlalu lama merindukanmu

[Chorus]

Apakah kau tau lamanya ku memendam cinta

tidak kah kau coba sadari itu

[Reff]

Mengapa kau sungguh tega

Membiarkan ku merana

Sakit luka dan derita menyakiti jiwa

Sungguh kejamnya dirimu

Apa kau tak punya rasa

Biarkan kumerana menelan pedih cinta

Mengapa kau sungguh tega

Membiarkan ku merana

Sakit luka dan derita menyakiti jiwa

Sungguh kejamnya dirimu

Apa kau tak punya rasa

Biarkan kumerana menelan pedih cinta

[Outro]


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-70 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Seberkas Kisah


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 69 - Bertaubatlah"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 69 - Bertaubatlah"


Judul Lagu: Bertaubatlah

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2006 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Kita sedang hidup di dalam alam fana

Hanya tertunduk urusan dunia

Bagaimanakah kita mempertanggung jawabkan

Di akhirat kita menyesal

[Verse 2]

Sesaat ini kita hanya mencari

Kesenangan yang tiada artinya

Bertobatlah manusia sebelum terlambat

Tuhan selalu buka pintu taubatnya

[Reff]

Kita hidup di dunia hanyalah sementara

Berdosa dan juga durhaka

Bagaimanakah nanti mempertanggung jawabkan

Penyesalan kan tiada artinya

[Intro]

[Verse 3]

Sesaat ini kita hanya mencari

Kesenangan yang tiada artinya

Bertobatlah manusia sebelum terlambat

Tuhan selalu buka pintu taubatnya

[Reff]

Kita hidup di dunia hanyalah sementara

Berdosa dan juga durhaka

Bagaimanakah nanti mempertanggung jawabkan

Penyesalan kan tiada artinya

Kita hidup di dunia hanyalah sementara

Berdosa dan juga durhaka

Bagaimanakah nanti mempertanggung jawabkan

Penyesalan kan tiada artinya

[Outro]

Tuhan berkuasa memberikan maafnya

Asal kita taubat sebenarnya

Surga pemberiannya asal kita berubah

Bahagia dunia dan akhiratnya


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-69 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Bertaubatlah


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 68 - Ada Rindu Ada Sayang"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 68 - Ada Rindu Ada Sayang"


Judul Lagu: Ada Rindu Ada Sayang

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2015 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Betapa, dalamnya cintaku ini kepadamu.

Begitu lama ku mengenalmu, tak pernah aku lupa.

Mengapa, kini rasa cinta ni semakin gila.

Hantui hariku bayangi jiwaku, begitu dalam membuatku kelam.

[Verse 2]

Harusnya, aku terima sakit di hati ini.

Sungguh ku tak tahu yang terjadi, sungguh aku tak mengerti

Cobalah, kau pahami rasa di hatiku ini.

Tak sadarkah bila aku yang mencinta, cintaku begitu besar kepadamu.

[Reff]

Cintaku, begitu dalam, tak akan pernah tergantikan.

Walaupun, ombak di samudra, menerjang ku akan bertahan.

Cintaku, begitu besar, dirimu selalu di hatiku.

Tingginya, gunung Mahameru, kan kudaki hanya untukmu.

[Intro]

[Verse 3]

Baiknya, ada ikatan di antara kita.

Agar tidak ada yang kecewa, ku harap bahagia.

Mungkinkah, engkaupun mengharap semua terjadi.

Adanya rindu adanya sayang, ikatan cinta di antara kita.

[Intro]

[Reff]

Cintaku, begitu dalam, tak akan pernah tergantikan.

Walaupun, ombak di samudra, menerjang ku akan bertahan.

Cintaku, begitu besar, dirimu selalu di hatiku.

Tingginya, gunung Mahameru, kan kudaki hanya untukmu.

[Outro]

Cintaku, begitu dalam, adanya rindu ada sayang.

Walaupun, ombak di samudera, menerjang ku akan bertahan.

Tingginya, gunung Mahameru, kan kudaki hanya untukmu


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-68 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul  : Ada Rindu Ada Sayang


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 67 - Mengejarmu Ku Tak Sanggup Pergi Pun Ku Tak Mampu (Selalu Ku Kenang)"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 67 - Mengejarmu Ku Tak Sanggup Pergi Pun Ku Tak Mampu (Selalu Ku Kenang)"


Judul Lagu: Mengejarmu Ku Tak Sanggup Pergipun Ku Tak Mampu

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada hari Senin 24 April 2023 M, dan di aransemen ulang di tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Bila, waktunya tlah tiba

Mungkin kau kan pergi untuk selama-lamanya

Sekian lama ku menunggu

Balasan cinta yang sama dan tulus darimu

[Chorus]

Namun apa daya lah diriku

Harapan tlah hilang kau hancurkan dengan kejam

Kini cinta yang digores luka

Menghancurkan hidup hingga aku pun meredup

[Reff]

Cinta terindah tergorès di hidupku

Lukai hati kadang menenangkan hati

Mungkin suratan harus aku terima

Jalani cinta dengan seribu derita

[Intro]

[Chorus]

Namun apa daya lah diriku

Harapan tlah hilang kau hancurkan dengan kejam

Kini cinta yang digores luka

Menghancurkan hidup hingga aku pun meredup

[Reff]

Cinta terindah tergorès di hidupku

Lukai hati kadang menenangkan hati

Mungkin suratan harus aku terima

Jalani cinta dengan seribu derita

Cinta terindah tergorès di hidupku

Lukahi hati kadang menenangkan hati

Mungkin suratan harus aku terima

Jalani cinta dengan seribu derita

[Outro]

Sungguh mengejarmu tak sanggup

Namun pergi pun ku tak mampu

Sumpah matiku untukmu

Engkau kan ku kenang dan akan selalu ku kenang


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-67 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul  : Mengejarmu Ku Tak Sanggup Pergi Pun Ku Tak Mampu (Selalu Ku Kenang)"


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 66 - Cinta Tak Terhapus"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 66 - Cinta Tak Terhapus"


Judul Lagu: Cinta Tak Terhapus

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2025 M


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Perjalanan hatiku

Menjaga nama dirimu

Kutempuh tanpa keluh

Sungguh engkau tak tahu

Kau yang aku nanti

Kau yang kucintai

Balasmu hanya sunyi menyakiti

[Verse 2]

Setiap pengorbanan

Kau biarkan tenggelam

Seolah tak bernilai

Didalam pandanganmu

Kau yang aku nanti

Kau yang kucintai

Mengapa kau tak pernah menolehku?

[Reff]

Tentang dirimu takkan mampu kuhapuskan

Langit bersaksi cintaku suci padamu

Kau yang kunanti

Kau yang kucintai

Tetap di hati

Terima kasih telah hadir di hidupku

Meski kau biarkan jiwaku tersayat pilu

Maafkan aku yang masih setia menunggu

Meski kau jauh

[Intro]

[Verse 3]

Bagai rembulan

Wajahmu menenangkan

Cahaya dirimu tetap jadi penerang

Saat ku tersesat dalam sunyi yang kejam

Namun kaulah luka yang paling dalam [Reff]

Tentang dirimu takkan mampu kuhapuskan

Langit bersaksi cintaku suci padamu

Kau yang kunanti

Kau yang kucintai

Tetap di hati

Terima kasih telah hadir di hidupku

Meski kau biar¬kan jiwaku tersayat pilu

Maafkan aku yang masih setia menunggu

Meski kau jauh


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-66 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Cinta Tak Terhapus


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 65 - Syair Langit"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 65 - Syair Langit"


Judul Lagu: Syair Langit

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2015 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Selama nafas ini terus kan terhempas

Di dalam hidup hingga aku pun meredup

Syair langitku sumpah matiku untukmu

Takdir ilahi tersirat di hati

[Verse 2]

Hamparan putih tergores hitamnya tinta

Tertulis indah tentukan hidupku ini

Aku memilih hingga hati ini lirih

Syair langitmu membungkam hidupku

[Chorus]

Tak akan bisa aku berlabuh

Pada yang lain engkau yang aku tempuh

Dendam dan cinta kian menjadi

Di dalam hati takkan bisa terganti

[Reff]

Terlalu dalam begitu kelam

Tertatih aku dan terpuruk karena dirimu

Dendam dan cinta selalu menyatu

Pedih dan perih hingga aku pun terletih

[Intro]

[Verse 3]

Bayangan dirimu hantui jiwa ragaku

Sumpah serapah tertumpah tidak terarah

Dilema nya cinta mengapa harus merana

Syair langitku hakikat cintaku

[Chorus]

Tak akan bisa aku berlabuh

Pada yang lain engkau yang aku tempuh

Dendam dan cinta kian menjadi

Di dalam hati takkan bisa terganti

[Reff]

Terlalu dalam begitu kelam

Tertatih aku dan terpuruk karena dirimu

Dendam dan cinta selalu menyatu

Pedih dan perih hingga aku pun terletih


Terlalu dalam begitu kelam

Tertatih aku dan terpuruk karena dirimu

Dendam dan cinta selalu menyatu

Pedih dan perih hingga aku pun terletih


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-65 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Syair Langit


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 64 - Mungkinkah Aku mampu"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 64 - Mungkinkah Aku mampu"


Judul Lagu: Mungkinkah Aku Mampu

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2019 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Kadang ku merasa

Lelah dalam menjalani semua

Cerita hidupku

Serasa hampa dan pilu

[Verse 2]

Hari demi hari

Terasa tanpa adanya arti

Hilang tanpa arah

Membuatku semakin jengah

[Reff]

Terlelap aku dalam mimpi-mimpi

Yang terkadang membuatku semakin menjadi-jadi

Selalu kucoba melawan semua

Rasa-rasa itu yang terus menghantuiku

Harus kusadar bahwa semua ini

Ujian terbesar dalam hidup yang kujalani

Mungkin kah aku mampu tuk menjalani

[Intro]

[Verse 3]

Kadang ku merasa

Lelah dalam menjalani semua

Cerita hidupku

Serasa hampa dan pilu

[Verse 4]

Hari demi hari

Terasa tanpa adanya arti

Hilang tanpa arah

Membuatku semakin jengah

[Reff]

Terlelap aku dalam mimpi-mimpi

Yang terkadang membuatku semakin menjadi-jadi

Selalu kucoba melawan semua

Rasa-rasa itu yang terus menghantuiku

Harus kusadari bahwa semua ini

Ujian terbesar dalam hidup yang kujalani

Mungkin kah aku mampu tuk menjalani

[Outro]

Mungkin kah aku mampu tuk menjalani


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-64 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Mungkinkah Aku mampu


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 63 - Semakin Lama Semakin Dalam"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 63 - Semakin Lama Semakin Dalam"


Judul Lagu: Semakin Lama Semakin Dalam

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2015 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Bukannya ku mengingkari dalamnya cintamu itu

Namun banyak duri menghalangiku

Dilema cinta yang telah terpendam

semakin lama semakin dalam

Semakin lama semakin dalam

[Verse 2]

Sekian lama aku merana

menunggu datangnya kasih dan cinta

Satu hati yang takkan terganti

Semakin lama kian menjadi

[Intro]

[Reff]

Ku akui aku cinta padamu

Ku tak sanggup terima bila kau tak di sisiku

Ku akui aku sayang padamu

Jerita cinta yang mengguncang hempaskan jiwaku ini

Apakah aku tak luka kau kira aku bahagia

Jiwa ini terguncang badai

Yang terhempas ombak di samudra

Bukan aku tak cinta, bukan pula ku tega

Ini semua catatan cinta dari yang kuasa

[Verse 3]

Bukannya ku mengingkari dalamnya cintamu itu

Namun banyak duri menghalangiku

Dilema cinta yang telah terpendam

Semakin lama semakin dalam

semakin lama semakin dalam

[Verse 4]

Sekian lama aku merana

menunggu datangnya kasih dan cinta

Satu hati yang takkan terganti

semakin lama kian menjadi

[Intro]

[Reff]

Ku akui aku cinta padamu

Ku tak sanggup terima bila kau tak di sisiku

Ku akui aku sayang padamu

Jerita cinta yang mengguncang hempaskan jiwaku ini

Apakah aku tak luka kau kira aku bahagia

Jiwa ini terguncang badai

Yang terhempas ombak di samudra

Bukan aku tak cinta, bukan pula ku tega

Ini semua catatan cinta dari yang kuasa

[Outro]

Dilema cinta yang telah terpendam

Luka dan duka kita rasakan

Catatan cinta begitu kelam

Semakin lama semakin dalam


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-63 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Semakin Lama Semakin Dalam


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 62 - Bila Nanti Kau Disini"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 62 - Bila Nanti Kau Disini"


Judul Lagu: Bila Nanti Kau Disini

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2012 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Teringatkah tentang cintaku pada dirimu

Begitu dalam tak tergantikan oleh apapun

Aku tahu tentang semua cinta untuk diriku

Begitu lama sungguh sempurna tiada yang terlupa

[Chorus]

Apakah kau tak rasakan pahit hidup tanpamu

Ku mengerti kini ku sadar dan ku cinta dirimu

[Reff]

Bila nanti kau di sini dengan diriku selamanya

Kuharap engkau sayangi diriku jangan lepaskan aku

Ku berjanji kan di sini dengan dirimu yang kurindu

Aku kan selalu ada di dekatmu sampai akhir hidupku

[Verse 2]

Maafkan diriku ini yang tlah kecewakanmu

Dahulu aku belum mengerti tentang cintamu

Tak mengapa kini kurasakan arti bahagia

Yang tak kudapat saat dahulu kau menjauh dariku

[Chorus]

Kini ku sadar engkaulah belahan jiwaku

Aku pun sadar engkau adalah tulang rusukku

[Intro]

[Reff]

Bila nanti kau di sini dengan diriku selamanya

Kuharap engkau sayangi diriku jangan lepaskan aku

Ku berjanji kan di sini dengan dirimu yang kurindu

Aku kan selalu ada di dekatmu sampai akhir hidupku

Bila nanti kau di sini dengan diriku selamanya

Kuharap engkau sayangi diriku jangan lepaskan aku

Ku berjanji kan di sini dengan dirimu yang kurindu

Aku kan selalu ada di dekatmu sampai akhir hidupku

[Outro]

Bila nanti kau di sini


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-62 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Bila Nanti Kau Disini


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 61 - Suluk Wandatul Wujud"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 61 - Suluk Wandatul Wujud"


Judul Lagu: Suluk Wahdatul Wujud

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2022 M

Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Jika kau kenal dirimu

Ombak dan lautan berasal dari yang satu

Bagai mutiara dan sebuah batu

Tamsil antara kita dan juga Ratu

[Verse 2]

Kita dan alam semesta

Hakikatnya tidak ada hanya bayang semu

Hanya Dia yang lain tak ada

Al-Wujud Al-Mutlaq Allah yang kurindu

[Chorus]

Hirup urang ukur darma wayang

(Hidup kita hanya sebatas wayang)

Sagala rupa ukur diatur ku dalang

(Segalanya hanya diatur oleh Dalang)

Usik malik abdi nampi papasten ti Gusti

(Segala yang terjadi saya menerima takdir dari Gusti)

[Verse 3]

Bagai mutu manikam

Yang menancap bagai duri menusuk dihati

Hakekat Syare'at jika tak bertempat

Intan dan permata menjadi neraka

[Reff]

Wahdatul Wujud ketiadaannya diri

Ittihad Hulul Manunggaling Kawulo Gusti

Ngelmuning Roso Rosone Sajatining Urip

Bukan bersatu tapi fanakan dirimu

[Bridge]

Yang to'at Allah yang to'atkan

Yang ingkar Allah yang ingkarkan

Syare'at tetap dijalankan

Hakekat tetap ditempatkan

[Chorus]

Ilange rogo

(Hilangnya diri)

Kari Hyang Moho Suci

(Tinggalah yang Maha Suci)

Ilange kekarepane menungso

(Hilangnya kehendak manusia)

Kari kekarepane Gusti

(Tinggalah kehendak Gusti)

Ilange kesadaran diri

(Hilangnya kesadaran diri)

Mung kari kesadarane kang Moho Sejati

(Tinggalah kesadaran yang Maha Sejati)

[Intro]

[Reff]

Wahdatul Wujud ketiadaannya diri

Ittihad Hulul Manunggaling Kawulo Gusti

Ngelmuning Roso Rosone Sajatining Urip

Bukan bersatu tapi fanakan dirimu

Wahdatus Syuhud kesaksian hanya satu

Tiada terlihat semua hanya bayang-bayang

Para pencinta yang mabuk didalam rindu

Tiada penghalang

Tiada yang menghalang

[Outro]

Allahumaj'al hadal 'alama shogiron amamana wada'ismaka yakifu da iman fiqulubina


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-61 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Suluk Wandatul Wujud"


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Talqin Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)




Talqin Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Amalan di dalam tarekat, sebuah jalan ruhaniyah

Di dalam setiap tarekat yang bersanad dan berakar dari sumber yang murni, senantiasa terdapat amalan-amalan yang diwariskan secara turun-temurun kepada para muridnya. Amalan ini bukan sekedar rutinitas ibadah lahiriah, melainkan merupakan washilah, jembatan ruhani, yang mengantarkan sang salik menuju penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT.

Setiap tarekat memiliki susunan amalan yang khas dan tersendiri, sesuai dengan warisan dari silsilah para mursyidnya. Namun secara hakikat, inti dari semua tarekat sejati tetaplah satu, yaitu menghidupkan hati dengan dzikir, memperkuat ikatan batin dengan Allah, serta membersihkan nafs dari kegelapan duniawi.

Secara umum, amalan-amalan tarekat mencakup unsur-unsur yang serupa: dzikir lisan dan dzikir qalbu, muraqabah, mujahadah, serta riyadhah yang terukur dan dibimbing. Perbedaan-perbedaan di antara tarekat hanyalah dalam rincian bentuk dan metode, namun semua berpulang pada tujuan yang sama, yaitu “Sajatining Mulyo”, kemuliaan sejati, yang hanya dapat diraih dengan taufik dan inayah dari Sang Maha Mulya.

Talqin Dzikir تلقين الذكر

Pengertian Talqin Dzikir

Secara bahasa, talqin (التلقين) berasal dari kata laqana yulaqinu talqinan (لَقَّنَ – يُلَقِّنُ – تَلْقِينًا) yang berarti mengajarkan sesuatu secara langsung dari guru kepada murid dengan cara menanamkan di hati dan lisan.

لَقَّنَ (laqana) jenis: Fi‘il maḍi (kata kerja lampau) Akar kata: ل ق ن

Makna lughawi: Memberitahukan dengan ucapan secara langsung. Membimbing lisan seseorang untuk mengucapkan sesuatu. Menuntun atau menanamkan kalimat tertentu agar melekat di hati.

Contoh lughawi:

لَقَّنَهُ الشَّهَادَةَ → “Dia menuntunnya membaca syahadat.”

يُلَقِّنُ (yulaqqinu) jenis: Fi‘il muḍari‘ (kata kerja sekarang/akan datang) Akar kata: ل ق ن

Makna lughawi: Sedang atau akan mengajarkan secara langsung. Menuntun seseorang mengucapkan sesuatu saat ini atau di masa mendatang.

Contoh lughawi:

هُوَ يُلَقِّنُ الطِّفْلَ السُّورَةَ → “Dia sedang mengajarkan surat itu kepada anak kecil.”

تَلْقِينًا (talqinan) jenis: Maṣdar (kata benda dasar dari kata kerja) Akar kata: ل ق ن

Makna lughawi: Proses mengajarkan atau menuntun ucapan. Penanaman bacaan dalam ingatan dan hati. Mengulang-ulang agar seseorang hafal dan paham.

Contoh lughawi:

التَّلْقِينُ فِي التَّعْلِيمِ مُهِمٌّ → “Talqin dalam pengajaran adalah hal yang penting.”

Sedangkan dzikr (الذِكْر) berarti mengingat. Dalam konteks tasawuf, dzikir adalah mengingat Allah Ta‘ala dengan hati, lisan, dan seluruh wujud.

Jadi, talqin dzikir adalah proses pengajaran dzikir dari seorang guru tarekat kepada muridnya, dengan tata cara yang terjaga sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, dan memiliki tujuan agar dzikir itu masuk ke dalam qalbu, menembus sirr, dan menghidupkan ruhani murid di jalan suluk.

Talqin dzikir تلقين الذكر adalah salah satu amalan yang dilakukan didalam sebuah tarekat, yang melibatkan bimbingan atau pengajaran dzikir dari seorang guru kepada muridnya.

Jadi, "talqin dzikir" secara harfiah berarti "pengajaran dzikir" atau "mengajarkan untuk mengingat Allah.”

Didalam tarekat, talqin dzikir merujuk pada proses membimbing seseorang untuk mengucapkan dzikir tertentu, seperti kalimat tauhid لا إله إلا الله (la ilaha illallah) atau mengucapkan dzikir Ismu Dzat الله (Allah).

Talqin dzikir itu mendiktekan ismu Dzat Allah secara lahir dan bathin, jadi tidak hanya mencakup pengajaran dzikir secara lahir, karena kalau bicara lahir, orang yang bukan Islam pun tahu dan bisa menyebutkan lafadz lailahaillallah atau-pun lafadz Allah, karena memang lafadz-nya pendek dan mudah di hafal. Tetapi talqin dzikir ini harus berkaitan juga dengan mendiktekan ismu Dzat Allah secara batin.

Kedudukan Talqin Dzikir dalam Tarekat

Talqin dzikir adalah pintu gerbang utama dalam perjalanan seorang salik di jalan tarekat. Sebab, dzikir yang diajarkannya langsung diberikan oleh guru tarekat yang bersambung sanadnya, yang dimana hasil dari talqin tersebut, akan memberikan asrar (rahasia) dan barakah yang tidak didapatkan sekedar dari membaca sendiri.

Tujuan utama talqin dzikir adalah membersihkan hati dari kelalaian dan penyakit hati, serta membimbing seseorang untuk mengingat Allah secara lebih mendalam. Dalam arti lain, orang yang di talqin dzikir, berharap bisa menjadi ahli dzikir.

Ahli dzikir dan tukang dzikir itu beda. Ahli dzikir pasti tukang dzikir, sedangkan tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli dzikir itu tak dibatasi lisan, tak dibatasi ruang, dan tak dibatasi waktu. Sedang apapun, sedang dimanapun, hati-nya selalu hidup untuk mengingat Allah. Dzikir nya tak terhalang pekerjaan. Jangankan sedang shalat, ataupun sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, sedang apapun ia, sedang mengobrol, sedang bekerja, hatinya tetap berdzikir kepada Allah.

Tukang dzikir itu baru mampu berdzikir saat dia memang sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, seperti wiridan ba’da shalat fardhu, atau sedang menghadiri amaliyah di majelis-majelis yang ia datangi.

Mirisnya, terkadang sedang melafalkan dzikirpun, yang keluar dari lisannya adalah kalimat pujian kepada Allah, ternyata Allah tidak ada dihatinya. Allah hanya ada dilisannya.

Ahli dzikir itu, saat melafalkan dzikirnya, sembari hidup juga hatinya. Begitupun saat lisannya tidak sedang melafalkan dzikir, tapi hatinya tetap berdzikir, disetiap waktu yang ia lewati, disetiap hembusan nafas yang ia lalui.

Para ulama sufi menjelaskan:

مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ

“Barang siapa tidak memiliki syekh (pembimbing), maka syekhnya adalah setan.”

Dengan talqin, seorang salik menerima warisan ruhani yang bersambung dari hati Rasulullah saw, dan bukan hanya sekedar rangkaian lafadz.

Dzikir itu bagaikan cahaya yang diterima dari cahaya sebelumnya. Sehingga cahayanya terus berpindah, sambung menyambung dari qalbu guru ke qalbu murid-muridnya.

Dalil-Dalil Tentang Talqin Dzikir

Al-Qur’an

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ

“Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.”

(QS. Al-Muzzammil: 8)

Ayat ini menjadi dasar dzikir, sedangkan talqin adalah metode Rasulullah saw mengajarkan dzikir kepada para sahabatnya.

فَسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)

Ahli dzikir di sini termasuk para guru tarekat yang mewarisi ilmu dan amalan dzikir.

Hadits Nabi Muhammad saw

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْكَبَ سُفُنَ النَّجَاةِ، وَيَسْتَمْسِكَ بِعُرَى الإِيمَانِ، وَيَرْكَبَ سُبُلَ الرَّشَادِ، فَلْيُوَالِ وَلِيِّي، وَلْيُعَادِ عَدُوِّي، وَلْيَأْتَمَّ بِالأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِي

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

"Barang siapa yang mencintai untuk menaiki kapal-kapal keselamatan, berpegang teguh pada tali-tali iman, dan menempuh jalan-jalan petunjuk, maka hendaklah ia mencintai waliku, memusuhi musuhku, dan mengikuti para pemimpin (imam) setelahku."

Hadits ini meskipun tidak secara eksplisit menyebut talqin, namun memberi isyarat bahwa mengikuti pimpinan ruhani (imam/mursyid) adalah kunci keselamatan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah mentalqin Sayyidina ‘Ali dengan dzikir la ilaha illallah, dengan meletakkan tangan beliau di dada ‘Ali, seraya bersabda:

غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Tutup matamu, dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illallah.”

Inilah yang menjadi dasar praktik talqin dalam tarekat.

Ijma’ Ulama Tasawuf

Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyyah menegaskan, bahwa dzikir yang diambil langsung dari guru tarekat, akan membawa nur (cahaya) yang berbeda dengan dzikir yang hanya dibaca tanpa bimbingan sanad.

Proses Talqin Dzikir

Pelaksanaan talqin dzikir dalam tarekat memiliki adab yang tinggi. Dan pada pelaksanaannya, disetiap tarekat memiliki metode yang mungkin berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.

Persiapan: Murid berwudhu, membersihkan hati dari kesibukan dunia, dan duduk dengan penuh adab di hadapan orang yang akan mentalqin.

Izin guru: Talqin dilakukan dengan izin dan kesiapan batin kedua belah pihak.

Pembacaan Dzikir: Guru mengucapkan dzikir dengan tartil, menghembuskan nafas ruhani ke qalbu murid.

Penanaman Rahasia Dzikir: Guru terkadang meletakkan tangan di dada, atau tangan memegang tangan, atau juga memegang kepala murid sebagai simbol perpindahan sir.

Pengulangan: Murid mengulangi lafadz dzikir sesuai bimbingan guru, hingga terasa hidup di dalam hati.

Wasiyyah: Guru memberi pesan adab dalam menjaga dzikir itu sepanjang hidup.

Hikmah Talqin Dzikir

Menghubungkan sanad ruhani dari Rasulullah saw kepada salik. Menghidupkan qalbu sehingga dzikir menjadi hadir, bukan sekedar lafadz. Menanamkan adab dalam berdzikir. Mendapat limpahan barakah dari guru dan silsilah tarekat. Dan membuka pintu makrifat dengan izin Allah.

Penutup Hikmah

التَّلْقِينُ بَابُ الدُّخُولِ إِلَى حَضْرَةِ اللهِ، فَمَنْ دَخَلَ بِغَيْرِ التَّلْقِينِ كَمَنْ دَخَلَ بَيْتًا مِنْ غَيْرِ بَابِهِ 

“Talqin adalah pintu masuk ke hadirat Allah. Siapa yang masuk tanpa talqin, bagaikan masuk ke rumah tanpa pintunya.”

Dengan demikian, talqin dzikir bukan sekedar formalitas, melainkan warisan agung dari hati ke hati yang telah berjalan sejak zaman Rasulullah saw, dipelihara oleh para sahabat, tabi’in, hingga sampai kepada para mursyid di zaman ini.

Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla ngadawuh didalam Al-Quran,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٧٤

“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Talqin dzikir dapat memberikan berbagai manfaat spiritual, dan bisa menjadi sala satu sarana untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-20 (Rahasia di Usia Empat Puluh Tahun)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-20

(Rahasia di Usia Empat Puluh Tahun)


“Jika engkau telah mencapai usia 40 tahun atau lebih, dan berada pada suatu perangai atau sikap tertentu, maka engkau akan sulit berubah. Dan itulah gambaran akhir kematianmu.

Jadi jika dalam usia 40 tahun engkau masih menjadi manusia yang ingkar kepada Allah, masih suka dengan maksiat, masih malas dalam beribadah kepada Allah, maka itu adalah gambaran besar kelak kematianmu seperti itu.

Namun jika sebaliknya, di usiamu yang bahkan sebelum 40 tahun engkau yang masih muda sudah mampu menjadi orang yang rajin dan ahli dalam beribadah, maka insyaAllah itu adalah gambaran kelak kematianmu, meninggal dalam keadaan husnul khatimah”

Penjelasan:

Mutiara ini mengandung pesan yang sangat dalam, sebab usia empat puluh tahun adalah titik penting dalam perjalanan seorang hamba. Usia itu bukan sekedar angka, melainkan sebuah gerbang menuju kematangan ruhani dan ketetapan watak. Apa yang tertanam di usia itu ibarat ukiran pada batu: sulit dihapus, sulit pula diubah.

Apabila seseorang telah mencapai umur empat puluh tahun, namun tetap berada dalam kelalaian, tenggelam dalam maksiat, dan enggan kembali kepada Allah, maka itu pertanda keras dari Allah. Sebab hati yang keras di usia itu akan semakin jauh dari cahaya iman. Namun sebaliknya, jika sejak usia muda ia menghiasi hidupnya dengan ibadah, dzikrullah, dan amal saleh, maka InsyaAllah, ia akan dipelihara Allah hingga akhir hayatnya dalam keadaan husnul khatimah.

Dengan kata lain, usia empat puluh adalah cermin kematian: bagaimana engkau hidup, demikian pula engkau akan wafat.

Al-Qur’an - tentang doa usia 40 tahun

Allah SWT berfirman:

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًۭا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًۭا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًۭا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهْرًۭا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًۭ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

(QS. Al-Ahqaf: 15)

Artinya:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanyA, hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham agar aku tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”

Ayat ini memberi isyarat bahwa usia 40 tahun adalah waktu taubat besar dan peneguhan amal saleh.

Hadis tentang tanda hati keras setelah 40 tahun

Rasulullah aw bersabda:

مَنْ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ

Artinya:

"Barangsiapa yang telah mencapai usia 40 tahun, namun kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka bersiap-siaplah menuju neraka."

(HR. Abu Ya’la, Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)

Hadis mengenai peringatan usia 40 tahun ini adalah hadist yang dinilai lemah (ḍaʻif) atau bahkan ada yang tidak jelas status periwayatannya, karena keterbatasan sanad dan periwayatan yang kurang kuat dari kitab-kitab hadist yang kredibel, meskipun maknanya sering dijadikan renungan untuk lebih bertaqwa di usia matang, seperti yang dicontohkan dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang doa bersyukur di usia 40 tahun. 

Status Hadis:

Hadis Da'if/Tidak Jelas:

Sebagian ulama hadist menyatakan bahwa hadist ini memiliki status yang lemah (ḍaʻif) atau bahkan tidak jelas periwayatannya. 

Tidak Ada Sumber Kuat:

Ketidakjelasan ini disebabkan oleh sanad (rantai periwayatan) yang tidak memenuhi syarat hadist sahih, seperti yang ada pada kitab-kitab hadis primer yang terpercaya. 

Makna dan Renungan:

Meskipun status hadisnya tidak kuat, maknanya mengandung pesan moral yang sangat penting.

Usia 40 tahun dianggap sebagai usia "kematangan" di mana seseorang diharapkan memiliki kesadaran spiritual yang lebih tinggi. 

Al-Quran Surah Al-Ahqaf ayat 15: Ayat ini mengabadikan doa Nabi Muhammad SAW ketika usia Beliau dan sahabat Abu Bakar mencapai 40 tahun, yang memohon bimbingan untuk bersyukur atas nikmat Allah dan dapat beramal saleh yang diridai-Nya. 

Pesan yang Disampaikan:

Hadist ini meskipun lemah, dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah dan amal baik, meniru teladan para Nabi dan Sahabat yang menjadikan usia 40 tahun sebagai titik tolak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan

Usia 40 adalah puncak ujian sekaligus cermin kematian. Barangsiapa yang masih lalai, maka hatinya semakin sulit berubah. Namun barangsiapa yang menempuh jalan taubat, mengokohkan ibadah, dan menjaga diri dari maksiat, maka Allah akan menjaganya hingga akhir hayat.

Perlu digarisbawahi dengan penuh kehati-hatian, jangan sampai mutiara hikmah ini disalahpahami. Ia bukanlah isyarat bahwa sebelum usia empat puluh tahun manusia boleh bersantai dalam kelalaian. Tidak demikian. Sebab umur adalah rahasia Allah, dan kematian tidak pernah bertanya: “Apakah engkau masih muda atau telah renta, sedang sehat atau sedang sakit” Hakikat ajal hanyalah Allah yang mengetahuinya, dan ia datang tanpa menunggu kesiapan hamba.

Mutiara ini hanya menegaskan satu perkara: apabila seseorang telah melewati usia empat puluh tahun, namun masih juga gemar mengingkari Allah, masih bergelimang dalam maksiat, dan belum juga tersentuh oleh ingatan akan kematian, maka sungguh betapa buruk perangainya. Umur yang seharusnya menjadi lentera pengingat justru dibiarkan redup tanpa cahaya. Ia telah beranjak tua, namun jiwanya tetap kanak-kanak dalam kelalaian.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Rabu, 25 Maret 2026

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 60 - Tentang Dia Sang Maha Cinta"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 60 - Tentang Dia Sang Maha Cinta"


Judul Lagu: Tentang Dia Sang Maha Cinta

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2023 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Jika tiba suatu hari nanti kau kan mengerti

Bukan lagi berharap untuk senang

Melainkan berharap tuk tenang

[Verse 2]

Kumerasa lebih baik kubisa dimengerti

Bukan lagi berharap dicintai

Lebih baik diterima bukan dipuja

[Reff]

Saat itu kita berada pada kepahaman

Bahwa hati bukanlah tentang bahagia didunia

Yang Sementara

Melainkan yang hakiki ini tentang Dia

Sang Maha Cinta Allah Azza wa jalla

Yang slalu ada didalam jiwa

[Bridge]

Aku dan kamu hanya bayang semu

Tak ada kecuali Dia

Tak apa tak mengapa aku pun rela

Yang kuharap hanya Ridha-Nya.

[Intro]

[Reff]

Saat itu kita berada pada kepahaman

Bahwa hati bukanlah tentang bahagia didunia

Yang Sementara

Melainkan yang hakiki ini tentang Dia

Sang Maha Cinta Allah Azza wa jalla

Yang slalu ada didalam jiwa

[Bridge]

Aku dan kamu hanya bayang semu

Tak ada kecuali Dia

Tak apa tak mengapa aku pun rela

Yang kuharap hanya Ridha-Nya.


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-60 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Tentang Dia Sang Maha Cinta


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 59 - Cara Tuhan Sampaikan Rindunya"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 59 - Cara Tuhan Sampaikan Rindunya"


Judul Lagu: Cara Tuhan Sampaikan Rindunya

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2023 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Di dalam hidup ini

Ada suka dan ada duka

Seiring bersama berganti dan mengisi

Dalam kehidupan ini

[Verse 1]

Apa yang diterima

Syukuri dan kita nikmati

Tak perlu kau sesali, tak perlu kau tangisi

Suratan dari Ilahi

[Chorus]

Derita yang terkadang menyakiti kita

Itulah cara Tuhan sampaikan rindunya

Bahagia yang terkadang membuat kita lupa

Itulah cara Tuhan sampaikan ujiannya

[Reff]

Hadapi hidup dengan senyuman

Hadapi semua dengan keikhlasan

Dunia ini hanya sementara

Tak berharga

Apa yang kau cari dalam hidup ini

Semua kan berakhir, pemutusnya mati

Ridho Ilahi yang harus dicari

Tuk akhirat nanti

[Intro]

[Chorus]

Derita yang terkadang menyakiti kita

Itulah cara Tuhan sampaikan rindunya

Bahagia yang terkadang membuat kita lupa

Itulah cara Tuhan sampaikan ujiannya

[Reff]

Hadapi hidup dengan senyuman

Hadapi semua dengan keikhlasan

Dunia ini hanya sementara

Tak berharga

Apa yang kau cari dalam hidup ini

Semua kan berakhir, pemutusnya mati

Ridho Ilahi yang harus dicari

Tuk akhirat nanti


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-59 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Cara Tuhan Sampaikan Rindunya"


ttd. Penulis Jejak Makrifat

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...