Senin, 30 Maret 2026

Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Dzikir الذكر


Kata dzikir sebenarnya merupakan ungkapan dan pemendekkataan dari kalimat “dzikrullah” (mengingat Allah). Ia merupakan amalan khas yang mesti ada di dalam setiap tarekat.

Yang dimaksud dengan dzikir dalam suatu tarekat, adalah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahr dan sirri/khafi).

Dzikir Jahar (ذكر جهر) adalah "dzikir dengan suara keras" atau "dzikir yang diucapkan dengan lantang.”

Dzikir Khafi (ذكر خفي) atau Dzikir Sirri (ذكر سرِي) adalah "dzikir yang tersembunyi" atau "dzikir rahasia", yang merujuk pada dzikir yang dilakukan dalam hati tanpa suara.

Di dalam tarekat, dzikir diyakini sebagai cara yang paling efektif dan efesien untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoron dan penyakit-penyakitnya, sehingga hampir semua tarekat mempergunakan metode ini. Bahkan dalam istilah tasawuf, setiap yang disebut tarekat, maka yang dimaksudkan adalah tarekat dzikir.

Keutamaan dzikir didalam tarekat dibanding dzikir orang yang tidak bertarekat

Ketahuilah wahai salik yang mengharap ridha Allah, sesungguhnya dzikir adalah ruh dari seluruh amal ibadah, dan kunci pembuka segala pintu kedekatan kepada-Nya. Namun, dzikir yang diambil melalui talqin dari seorang guru tarekat, yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah saw, apakah melalui jalan taraqqi ataupun jalan tanazul, maka itu semua memiliki derajat dan kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding dzikir yang dilakukan tanpa bimbingan dan sanad ruhani. Sebab dzikir dalam tarekat mengandung tiga unsur agung: (1) Lafadz yang sahih, (2) Adab yang terjaga, (3) Sirr dan barakah yang diberikan dari qalbu guru ke qalbu murid.

Dalil Al-Qur’an

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًۭا

“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang ia pilih, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.”

(QS. An-Nisa’: 115)

Sabilul Mu’minin adalah jalan para pewaris Nabi saw, yaitu para ulama dan mursyid yang mengajarkan dzikir secara bersanad. Mengikuti mereka adalah bagian dari kesempurnaan dzikir.

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang, mengharap wajah-Nya.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini memerintahkan duduk bersama ahli dzikir. Ini adalah majelis dzikir yang dipimpin oleh guru tarekat, bukan dzikir sendirian yang rawan lalai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ.

Dari Abu Hurairah raḍiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan, mencari orang-orang yang berzikir kepada Allah. Maka apabila mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling menyeru: ‘Mari, temuilah apa yang kalian cari!’”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits talqin Sayyidina ‘Ali

غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Pejamkan matamu dan dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illa Allah.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa dzikir yang diajarkan langsung oleh Rasulullah saw mengandung transfer ruhani yang tidak bisa didapat hanya dengan membaca sendiri.

Penjelasan Ulama Tasawuf, Imam al-Qusyairi الإمام القشيري:

“Dzikir yang diambil dari ahlinya dengan sanad bersambung, itu lebih kuat dalam membersihkan hati, daripada dzikir yang hanya dihafalkan, karena yang pertama disertai adalah warisan sirr dari guru kepada murid.”

Imam al-Ghazali الإمام الغزالي:

“Dzikir bersama seorang Syekh mursyid bagaikan api yang diambil dari api yang menyala, sedangkan dzikir tanpa mursyid bagaikan menyalakan api tanpa sumber, bisa menyala, tetapi kecil dan cepat padam.”

Syekh Ahmad Zarruq الشيخ احمد زروق:

مَنْ لَمْ يَتَلَقَّ الذِّكْرَ مِنْ أَهْلِ النَّقْلِ وَأَهْلِ الْحَالِ، كَانَ ذِكْرُهُ أَقَلَّ بَرَكَةً وَأَثَرًا

“Siapa yang tidak menerima dzikir dari ahli sanad dan ahli hal (mursyid), maka dzikirnya lebih sedikit keberkahan dan pengaruhnya.”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-24 (Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-24

(Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)


“Sifat kesombongan yang ada pada seseorang hanya akan menambah kehinaan bagi penyandangnya. Andai yang ada di tanganmu itu adalah biji-bijian, kemudian ada orang yang mengatakan bahwa yang ada di tanganmu itu adalah permata, maka kata-kata itu sama sekali tidak akan bermanfaat bagimu. Sebab engkau pun mengetahui bahwa itu hanyalah biji-bijian. Dan andai yang ada di tanganmu itu adalah permata. Lalu manusia berkata bahwa itu hanyalah biji-bijian, maka kata-kata itu pun tidak akan berpengaruh untukmu. Sebab apa? Sebab engkau tahu bahwa itu adalah permata”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Minggu, 29 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-23 (Jangan Mudah Terkesima Melihat Seseorang)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-23

(Jangan Mudah Terkesima Melihat Seseorang)


“Janganlah mudah terkesima dengan seseorang yang engkau nilai hanya dari ucapannya ataupun tulisannya. Sehingga engkau menyimpulkan bahwa orang itu adalah manusia yang luar biasa.


Jangankan hanya baru sekedar rangkaian kata-kata indah bak mutiara, yang dirangkai melalui ucapan ataupun tulisan. Walaupun engkau telah melihat seseorang yang diberikan perkara luar biasa, sampai-sampai dia mampu terbang di atas udara, ataupun berjalan di atas air, maka janganlah tertipu dengannya, sebelum engkau dapat melihat kesungguhannya, dalam melaksanakan perintahan Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan juga dalam menjaga batasan-batasan hukum Allah”





Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Sabtu, 28 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-22 (Sejatinya Kita Tidak Pernah Kehilangan Apapun)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-22

(Sejatinya Kita Tidak Pernah Kehilangan Apapun)


“Pada umumnya, manusia akan merasakan sakit saat ia kehilangan apa yang ia cintai. Dan itu adalah sesuatu yang wajar, sangat manusiawi. Namun agar hati ini tidak jauh lebih terluka, maka ingatlah, sejatinya kita tidak pernah kehilangan apapun. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun.

Allah Subhanahu wa taala berfirman,

 "Miliknyalah apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah." Quran surah Thaha ayat 6.

Jika kita mengingat firman Allah tersebut, maka kita akan sadar, bahwa apa yang ada di dalam diri kita, dan apa yang selama ini kita akui milik kita, semuanya hanyalah titipan. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun, karena semuanya hanyalah milik Allah Subhanahu wa taala”




Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Jumat, 27 Maret 2026

Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Yang dimaksud dengan amalan khusus di sini adalah amalan yang benar-benar harus diamalkan oleh pengikut sebuah tarekat, dan tidak diamalkan oleh orang di luar tarekat, atau pengikut tarekat lain. Amalan khusus ini bisa jadi bersifat individual, maupun berjamaah.

Yang dimaksud dengan amalan individual adalah amalan yang harus dikerjakan oleh seorang murid (pengikut) tarekat, yang dimana amalan itu bisa saja hanya diberikan kesebagian diantara murid tarekat, yang sudah dianggap layak oleh guru mursyid untuk menerimanya.

Setiap murid pasti memiliki maqamat (tingkatan tahapan spiritual) yang berbeda-beda. Maka amalan khusus akan diberikan kepada murid yang sudah dianggap layak, karena telah lulus mengikuti tarbiyah-tarbiyah yang dilakukan olehnya.

Sedangkan amalan khusus secara umum, adalah amalan di tarekat tersebut, yang hanya bisa diamalkan oleh murid-murid pengikut tarekat tersebut, setelah mendapatkan talqin dzikir, dan mendapatkan ijazah untuk mengamalkannya, sehingga orang yang diluar tarekat tersebut tidak bisa mengamalkannya, kecuali atas izin dari guru mursyidnya.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-21 (Manusia yang Hanya Memikirkan Dunia)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-21

(Manusia yang Hanya Memikirkan Dunia)


“Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngadawuh, barangsiapa yang bangun dipagi hari, namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat haq Allah padanya, maka ingat, Allah akan menanamkan 4 penyakit pada dirinya.

Kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tiada ujungnya, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan keinginan yang tidak tercapai”











Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 71 - Hanya Satu Nama"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 71 - Hanya Satu Nama"


Judul Lagu: Hanya Satu Nama

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada 03 Februari 2026 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Sejak langkah menyentuh bumi

Namamu menetap di ruang sunyi

Bukan sebagai gema yang datang dan menghilang

Tapi sebagai rindu yang membuatku tenang

[Verse 2]

Waktu menguji dengan jarak dan luka

Musim berganti membawa ragu dan tanya

Namun yang tak berubah adalah arah

Cintaku tetap pulang pada satu nama

[Chorus]

Banyak wajah singgah di perjalanan

Namun tak satu pun menjadi tujuan

Hatiku bukan persinggahan semata

Ia rumah yang memilih satu cahaya

[Reff]

Ini cinta suci bukan sekedar rasa

cinta sejati bukan bara yang sementara

cinta mati yang tak mencari pengganti

Sejak masa silam hingga sampai sekarang

[Intro]

[Verse 3]

Bila kamu meragukanku

Biarlah waktu yang menjadi saksi

Aku mencintaimu bukan karena apa-apa

Tapi karna takdir hatiku memilih kamu

[Verse 4]

Ku tak menjanjikan langit tanpa mendung

Tidak pula hidup tanpa air mata

Namun yang ku janjikan hanya satu yang pasti

Aku tak pernah pergi dari cinta ini

[Chorus]

Waktu berlalu jadi lembaran doa

Namamu kutulis dalam suka dan duka

Bukan merayu bukan pula memaksa

Tapi inilah aku yang apa adanya

[Reff]

Jika engkau ragu pada kesungguhanku

Lihatlah lamanya ku mencoba bertahan

Cinta sejak dulu hingga sampai sekarang

Bukan keinginan tapi sebuah keyakinan

Ini cinta suci kujaga dalam sepi

cinta sejati tak runtuh oleh sunyi

Ini cinta mati tak mencari pengganti

Hatiku tetap milikmu tiada yang lain


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-71 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Hanya Satu Nama


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)

  Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini) “Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketig...